![]()
Banyak anak negri ini yang menyayangkan tentang kurikulum pendidikan, budaya pendidikan, politik pendidikan dan sebagainya di Indonesia. Seolah-olah, negara ini bukanlah menjadikan pendidikan sebagai sumber kekuasaan bangsa. Bahkan, tak bisa dipungkiri bahwa pendidikan dijadikan mainan politik oleh pejabat tinggi di negri ini.
Selain itu, pemerintah pada masa orde baru telah mendesain budaya pendidikan dengan adat yang jelek di Indonesia. Pemerintah memberikan penguatan pada salah kaprah masyarakat yang melihat gelar sebagai tiket untuk mendapatkan “rasa diri” baru di masyarakatnya, yaitu menjadi: Pegawai Negri. Kalau ingin terhormat, jadilah PNS. Kalau ingin jadi PNS, jadilah Sarjana dulu. Tak perduli, apakah setelah menjadi Sarjana para mahasiswa ini sudah tak berkarya lagi, seolah bukan urusan pemerintah. Padahal untuk memajukan bangsa dibutuhkan sarjana-sarjana yang berkarya.
Bukan hanya itu, sekolah juga punya budaya yang buruk. “Sekolah kita dengan memperlakukan siswa sekedar sebagai mesin-mesin ingatan, serba menghapal, murid diredusir menjadi bank-bank ingatan untuk diuji nantinya dengan NEM. Ini semua membuat sekolah kita malah menjadi kekuatan yang mendehumanisir siswa. Kekuatan akal budi insani direndahkan sekedar menjadi mesin rekaman!”, kata Maha Guru Sejarah Sosial UGM, Prof.Dr.Sartono Kaartodirjo. Dan untuk jangka lama, jumlah jam pembelajaran semakin lama semakin padat “menyesakkan dada siswa”, tetapi apa hasilnya? Dapatkah dunia sekolah kita terbebas dari Westoksinasi (racun-racun barat) saperti free sex,narkoba,korupsi,dan sebagainya? Sejarah membuktikan tidak.
Di satu sisi pendidikan yang “terlalu akademik” cenderung melahirkan “otak teoritis” tapi kemampuan praktik nol. Di sisi lain mental pilih-pilih pekerjaan yang hanya berdasarkan orientasi gengsi, dan bukan orientasi “hasil karya” membuat situasi ini seperti api dan minyak. Tolong menolong dalam membakar diri. Rakyat yang telah “mensubsidi” pelajar untuk bersekolah tak pernah mendapat balasan dari dunia sekolah? Bukankah ini sia-sia?
Berikut perincian-perincian yang saya dapatkan.
Pendidikan di Indonesia dan Pengangguran Sarjana
“Aku mau jadi Sarjana!” boleh, tak ada salahnya. Tapi banyak sarjana jadi pengangguran. Analisis lain mengatakan bahwa tingkat pengangguran sarjana yang tinggi itu ternyata bersumber dan disebabkan juga dari sistem pendidikan tinggi yang masih terlalu bercorak “akademis” yaitu, hanya hebat dalam teori dan konsep daripada menerapkan logika ilmunya dalam kehidupan nyata. Apalagi sistem pendidikan formal yang terlalu dibakukan berdasarkan juklak dan juknis membuat dunia usaha tak mampu ikut mempengaruhi lahir matinya suatu program pendidikan.
Padahal Mahasiswa adalah insan akademik. Maka, secara teoritis Mahasiswa adalah calon pembawa perubahan bangsa atau agent of change. Bagaimana bisa merubah bangsa, kalau ternyata hal terkecil saja yaitu, kalahnya bersaing tenaga ahli kita di pasar tenaga kerja, tidak mampu dibenahi. Apalagi merubah bangsa ini yang sudah semrawut disana-sini.
Dalam hal ini apa yang disebut sebagai konsep belajar harus diubah dulu. Fleksibilitas harus diberikan. Jangan seperti sekarang, status Lulusan Sarjana, tapi untuk sekedar bisa “siap latih” saja tidak bisa. Ini bukti, bahwa bertambahnya “jumlah jam pembelajaran” di kampus tidak berkait dengan unggul tidaknya sarjana apabila lepas dari konteks yang membutuhkannya, baik konteks “pasar kerja” maupun masyrakat.
IQ adalah Produk EI dan SQ = Lingkungan
Suasana itu mengikuti kita, meliputi suasana kesadaran kita dari detik ke detik. Sebagian merupakan akumulasi dari berbagai kebiasaan menilai diri sendiri, dibentuk oleh lingkungan keluarga. Mereka yang berasal dari keluarga yang suka saling membentak tumbuh dalam cekaman rasa tak aman, merasa selalu diawasi, khawatir salah, tergantung, menunggu, tidak berani mengambil resiko dan inisiatif.
Tapi mereka yang dibesarkan dalam suasana demokratis, orang tua yang selalu mendengar, penuh suasana tolong-menolong ayah, ibu, dan seluruh anggota keluarga tumbuh relatif lebih positif jiwanya. Masing-masing ini menjadi “baju” kepribadian kita. Kita merasakannya sebagai “spontanitas” yang memimpin segala kecendernungan kita dalam merespon sesuatu. Dan semuanya, tergantung pada bagaimana manusia itu mencoba mengelilingi kalbunya dengan pikiran-pikiran positif, berprasangka baik, bekerja keras, sehat jasmani, bugar, dan seterusnya.
Maka kelak, manusia yang dibutuhkan adalah manusia cerdas. Yaitu yang memiliki kekayaan “pikiran dan suasana hati” positif. Pikiran positif adalah gerbang kematangan EI (Emotional Intelegency) dan SQ (Spiritual Quetiont). EI dan SQ adalah Kecerdasan Emosional dan Spiritual, sebuah temuan baru yang sekarang mulai menggeser mitos IQ sebagai keunggulan terpenting dalam hidup. Karena, IQ ternyata adalah produk EI dan SQ. namun, bukan berarti sebaliknya.
Budaya Sekolah Kita
Temuan ilmiah dikutip Quantum Learning (Bobbi De porter,1992) telah membuat geger masyarakat sekolah di Amerika. Setiap minggunya rata-rata anak menerima 460an komentar negative atau kritik dan hanya 75 komentar positif yang bersifat mendukung. Kita tak biasa menerima kegagalan sebagai sebuah keberhasilan yang tertunda, itu masalahnya. Dari SD sampai SMU, tidak di sekolah dan di rumah, “Bodoh kamu! Bloon. Stupid. Goblok!”dst.
Bayangkan, inilah makian yang biasa kita terima dari sekolah selama bertahun-tahun. Total 12 tahun lamanya kita dibesarkan oleh sistem yang tidak terlalu sadar diri manhandle aspek jiwa manusia yang rumit. Dan makian di depan umum sudah cukup membuat setiap siswa belajar bahwa melakukan kesalahan adalah AIB. Apakah hal ini tidak membekas di otak kita? Lebih dari cukup untuk membuat anak yang tadinya periang dan senang bertanya, menjadi pribadi yang penakut menghadapi situasi kelas: Traumatik.
Bandingkan makian di atas dengan “efek psikologis” kalimat-kalimat penuh dukungan sewaktu kita penuh dukungan sewaktu kita masih kecil ini.
“Bagus. Bagus. Ayo berdiri….”
“Satu..dua..tiga…ayo kesini. Aduh, pinternya….”
Dari balik korden, tiba-tiba nenek berseru penuh dukungan.
“Eh…cucuku sudah bisa berdiri!!!!”
Tiba-tiba bersamaan dengan itu:
Prak!!!
Terdengar bunyi pot bunga kesukaan nenek jatuh berantakan karena ditarik tangan sang Ade.
“Tidak apa-apa. Ayo coba lagi….”
“Ayo, lagi. Bagus. Satu…dua…”
“Hebat. Kamu memang anak cerdas. Ayo coba sekali lagi!”
Sementara Mak Ijah, pembantu yang bertugas memomong Ade cepat-cepat membersihakn pecahan porselin yang cantik itu.
Dan akhirnya sedikit demi sedikit kita bisa berjalan.
Tidak ada hukuman.
Tidak ada kesalahan.
Tidak ada kata : kegagalan yang ada hanyalah pujian-pujian.
Kegagalan adalah cost(biaya) untuk keberhasilan yang tertunda.
Sekolah Kita : Adopsi Barat Yang Kadaluarsa
Sekolah, sebagaimana kita kenal adalah adopsi barat. Sekolah dengan model Newtonian, dengan berbagai asumsinya kini terbukti salah. Selama ini kita percaya bahwa dengan memahami bagian-bagian, kita dapat memahami keseluruhannya. Dengan perkata lain analisis akan mengahsilkan sintesis. Penerapan dalil-dalil Newtonian secara utuh pada sistem-sistem social adatif yang rumit mengurangi kapasitas manusia untuk menumbuhkan intelegensia, energi dan semangat secara individual. Dengan kata lain, sekolah telah membunuh kreativitas individualitas anak didiknya.
Lalu bagaimana solusi seharusnya…?
Created by Alamovic
Sumber Buku ESQ
alam.
Pernah baca buku summerhill scholl ga?
Summerhill school adalah sekolah”unik” yang digagas oleh A.S Neill. Saya tak menyarankan untuk mengadopsi cara seperti ini, namun ide dasar beliau mungkin boleh kita jadikan masukan.
Menurutnya, sekolah yang baik itu adalah sekolah yang membebaskan anak, yang bisa membuat anak -anak bahagia, sehingga segala yang ada pada mereka bisa ter ekspersikan dengan baik.
Tentunya, tak semua gagasan beliau bisa diambil -terutama kebebasan dalam hal moral dan agama, yang membuat anak -anak di sana (menurut saya) tercetak menjadi orang agnostik, namun ide dasarnya saja yang perlu kita pelajari.
Atau pernah melakukan survey ke sekolah -sekolah semacam sekolah islam terpadu? Alhamdulilah, menurut saya, di sebagian instansi pendidikan sudah ada peningkatan yang lebih baik. Meskipun tetap “terpaksa” berpatokan pada kurikulum nasional, namun itu hanya sebagai acuan saja. Yang penting, menurut saya, adalah bagaimana interaksi guru dan siswa di sekolah.
ah, afwan,ini hanya pandangan sya yang masi awam dan masih buta pendidikan secara teoritis begitu. Mohon di koreksi apabila salah.
eh, pertamax ya? ![]()
masya Alloh..
kan ini membahas pendidikan, tapi saya malah membahas sekolah.
maaaap…lagi ga konsen !!!
maap..jadinya ga nyambung yah? ![]()
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Tinggalkan komentar



















& Komentar